Bermimpi Di Atas Mimpi

Mentalitas dari suatu bangsa akan terbangun dengan baik bila aparatur pemerintahan memilik mental yang baik pula. Menjadi contoh yang akan ditiru, dan bisa melahirkan chaos, bila pemimpin itu senangnya bermimpi di atas mimpi.

PrikitNews; 25 Juni 2008. – ADA MIMPI yang indah, ada pula mimpi yang nyeramin. Ada yang bilang, mimpi hanyalah bunga-bunga tidur, namun ada juga yang percaya, mimpi sebagai wangsit yang harus diwaspadai. Soal kebenarannya, silahkan berpikir lebih bijak.

Negeriku tercinta ini paling suka dengan gejolak-gejolak yang bikin heboh seantero. Sepertinya, tanpa sensi gejolak, negeri ini bukanlah bernama Republik Indonesia. Dari gejolak politik, tipu menipu, sampai kepercayaan pada ramalan. Saya pikir, kebanyakan rakyat negeri ini sudah pada sakit jiwa. Selalu cepat mempercayai sesuatu hal tanpa memikirkan logikanya. Sialnya, orang-orang terpandang pun ikut-ikutan sakit jiwa. Dari pejabat negera hingga mereka yang seharusnya si pemilik logika sebagai pengajar, turut serta tertipu oleh orang “gila” yang kadang tidak memiliki pendidikan.

Apa yang salah dengan negeri ini?

Sekitar tahun 70-an, negeri ini dihebohkan oleh berita janin dalam kandungan bisa membaca Al Quran. Dari kaum awam, Ulama kelas satu, hingga Wakil Presiden [Adam Malik] sangat sukses ditipu oleh Cut Sahara Fona, ibu si janin, yang gak lulus SD itu. Adam Malik diberitakan sampai rela menempelkan kupingnya ke perut buncit Cut Sahara untuk mendengar suara si janin. Belakangan diketahui, Cut Sahara ternyata menempelkan tape recorder kecil [kebanyakan dimiliki wartawan] di atas perutnya. Jadi ingat nih lagu Nugie: Tertipu…!

Sepanjang tahun 90-an hingga sekarang, begitu banyak daftar penipuan berkedok investasi. Heboh dengan MLM [Multy Level Marketing] yang sukses menipu puluhan miliar duit nasabahnya. Lalu gebyar lagi penanaman modal di sektor agro bisnis dan bidang usaha lainnya. Di sini juga ratusan miliar duit nasabah sukses ditilep si penjual mimpi. Kasihannya, seorang teman artis cantik yang ngetop tahun 80-an ikut pula tertipu hampir 1M. Yang bodoh siapa, hayo..?

Redupnya [bukan mati, ya] kehebohan investasi bodong ini, masyarakat lantas dikagetkan lagi dengan penipuan via SMS dengan iming-iming mendapat hadiah gede. Yang berhasil ditipu mereka ini bukan hanya masyarakat menengah ke bawah. Tapi, orang berpangkat dan intelektual pun sukses banget ditilep uangnya dengan cara bermain di ATM. Tolol sekali! Kenapa orang-orang ini gak memakai nalar logika; merasa pernah gak sih mengikuti undian seperti disebut para penipu ini? Kalaupun merasa mengikuti undian itu, logika gak pemberitahuan hadiah melalui SMS? Atau, bertransaksi melalui ATM? Aya-aya wae…!

Masih kurang sensasi di kalangan masyarakat, di era Megawati jadi Presiden muncul lagi kehebohan soal harta karun di Situs Batutulis, Bogor. Sedihnya, penggalian ini malah dipimpin oleh Said Agil Al-Munawar, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Agama. Apa yang didapat dari penggalian ini selain kecaman dan caci maki dari masyarakat, khususnya orang Sunda yang merasa Situs yang begitu dihormati diobok-obok orang-orang bodoh.

Mungkin sensasi anak negeri masih kurang hebohnya, muncul lagi mimpi yang baru. Dua berita yang menghebohkan seperti serial sinetron [maksudnya bersambung] menjadi santapan pembicaraan hampir seluruh lapisan. Dari desa Ngadiboyo, Nganjuk, Jatim; seorang yang bernama Djoko Suprapto memproklamirkan diri sebagai pahlawan penemu blue energy sebagai alternatif pengganti BBM yang kian hari harganya terus melambung. Hebatnya, sampai Presiden SBY pun merasa tertipu oleh ulah Djoko yang dengan hasil temuannya itu. Apa hasilnya? Hingga kini belum bisa dibuktikan. Yang saya lihat di televisi dalam presentasinya, Djoko hanya mencampur air dengan bensin atau solar. Busyeet dah… Pada kemane nih ilmuan kita, kok pade kagak bersuara gitu?

Belum usai kehebohan blue energy made in Djoko, dari negeri Pasundan, Tasikmalaya, muncul sosok pahlawan bak Robin Hood kesiangan. Tiba-tiba saja nama Ahmad Zaini Suparta menjadi pemberitaan hangat di mass media. Lelaki bergigi sedikit togos ini mengakui punya dana sebesar 18.000 triliun rupiah sebagai warisan orangtuanya dari hasil menjual rempah-rempah ke luar negeri. Ahmad Zaini mungkin terinspirasi dari legenda Robin Hood atau Zoro, dengan gagah berani dan sesumbar, ia memasang iklan di surat kabar Bandung yang menyatakan mau meminjamkan dana kepada siapa pun yang memiliki nilai proyek di atas 50 miliar rupiah. Tentu saja dengan iming-iming pinjaman lunak.

Bagai laron di musim hujan, berbondong-bondonglah orang percaya dan datang menghadiri pertemuan di Vila Bunga, Parongpong, Bandung. Mungkin karena nilai sebutannya puluhan hingga ratusan miliar, maka yang datang tentu saja kalangan menengah ke atas. Dari yang merasa dirinya konglomerat hingga para intelektual bergelar Rektor Perguruan Tinggi, rame-rame mengajukan proposal pinjaman. Konyolnya, pertemuan itu dihadiri oleh manusia-manusia serakah dari seluruh pelosok negeri.

Usai pertemuan, apa yang terjadi? Ya, sukseslah Ahmad Zaini meninggalkan utang pembayaran sewa hotel tempat penyelenggaraan public expose, ditambah hutang katering dan hiburan senilai ratusan juta rupiah. Merasa dikadali, sejumlah pengusaha juga tengah mencari-cari keberadaan Ahmad Zaini.

Saya salut kepada sosok Ahmad Zaini yang telah berhasil mengelabui orang-orang besar di beberapa bidang. Terbilang nekad, tapi Zaini sukses besar membuat pengukuran akan kadar logika intelektual para orang-orang besar itu, yang memang nalarnya jeblok semua. Zaini tidak salah secara sensasional. Yang goblok adalah orang yang mempercayai omongannya. Punya otak yang pintar, tapi masih memelihara ketololan. Berarti orang-orang ini perlu terapi kejiwaan kan? Kalo gak sakit jiwa, berarti manusia yang suka ber-tuhan-kan keserakahan.

Sepastinya pun Zaini mengakui uang yang didapatnya itu warisan dari hasil usaha orangtuanya menjual rempah-rempah ke luar negeri, tetap saja harus diselidiki kebenarannya. Masya pemerintah tidak punya catatan arsip pengeksporan rempah-rempah sampai puluhan ribu triliun gitu? Barang seludupan dong itu namanya kalo gak punya nota ekspor.

Seandainya pun Zaini mengatakan uang tersebut dalam bentuk tabungan atau surat berharga, seharusnya dong diteliti kebenarannya? Bukan main percaya gitu aja! Gimane sih?! Katanya orang berpendidikan dan pengusaha besar. Kok tolol masih aja dipelihara? Ya, benar saja orang-orang ini sakit jiwa, kalau gak mau disebut manusia paling serakah. Mau gampangnya saja. Apakah sudah sebegitu bobroknya mentalitas bangsa ini, begitu gampang tersihir oleh umbar-umbar semata?

Melihat fenomena-fenomena seperti ini, saya melihat bahwa bangsa ini belum lagi terbebas dari mental bangsa jajahan. Begitu mudahnya terprovokasi oleh hal-hal yang belum jelas. Mungkin juga ini satu ciri khas mental bangsa yang pernah dijajah kolonial Belanda. Beda dengan pola pikir bangsa bekas jajahan Inggris. Boleh dibilang, negara bekas jajahan bangsa Belanda hampir tidak ada yang maju. Barangkali itu efek dari pembodohan yang diterapkan penjajah agar selalu bisa mengadu domba. Dan, suka tidak suka ini menjadi pola yang diterapkan para politikus dan pengusaha untuk terus mengobok-obok kebodohan rakyat ini demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Demo sana demo sini. Anarkis di sana, anarkis di sini. Tipu sono, tepu sene…! Mau jadi bangsa apa sih rakyat negeriku ini? Mengapa begitu gampangnya teriming-iming – diajak bermimpi di atas mimpi – dan ketika terbangun dari mimpi hanya melihat kenyataan pahit dalam hidupnya? – Konyolnya, sebagaian kalangan yang bangga disebut “pengamat” justru berbangga diri menyebut semua kejadian dunia tipu-menipu ini adalah efek dari rakyat yang desperate – putus asa oleh ketidak-jelasan masa depan hidupnya oleh perekonomian yang masih terus terpuruk.

“Bah, cemmana kau bisa pandai bicara gitu kalau kau cumman pintar ngomong untuk konsumsi populeritas kau saja?! Ketika demo-demo menentang segala kebijakan pemerintah, muncung kau bicara lebih panjang dari hidung pinokio. Giliran kau sudah didudukkan di salah satu departemen, muncung kau lebih cekung dari muncung Omas, mingkem! Heh…!”

Di kalangan pemerintahan sami mawon. Orang-orang yang diharapkan bisa menjaga kesakralan hukum malah terlibat konspirasi jual-beli hukum. Tak suka si Polan berkoar membela kebenaran, bunuh saja di atas pesawat. Aparat yang dipastikan bisa menjaga keutuhan berbangsa, malah tak pandang kasih meluncurkan peluru dari moncong senjatanya. Malah ada senjata yang dibeli dari duit rakyat itu dipergunakan untuk merampok. Kalo rakyat ribut menuding ketidak becusan korpsnya, berdalilah bahwa si Gosa berpangkat mental bobrok itu sudah lama disersi. Banyak, dan bahkah lebih dari 18.000 triliun alasan yang dipunya para punggawa pemerintahan untuk membela diri. Ujug-ujugnya, rakyat ini terbuai lagi bermimpi di atas mimpi. Ahk…??! ***


Tinggalkan Balasan