Phobia mungkin bisa disebut sebagai ketakutan yang berlebihan. Aku phobia sama yang namanya tikus. Koruptor sering dianalogikan seperti tikus… Jadi, sangat perlu ber-phobia-ria untuk urusan yang satu ini, bila masih punya impian memiliki negeri yang sejahtera.
PrikitNews; 27 Juni 2008. – MEMBACA berita di Kompas, 27 Juni 2008, tentang sepak terjang petugas antikorupsi di China, saya meras kagum sekaligus geli. Kagum karena pemerintahan negeri Tirai Bambu itu konsekwen menjalankan misi prioritas; membabat habis para pejabat korup.
Kalau selama ini ‘intel’ penyidik koruptor di negara itu selalu menggunakan trik penyadapan, rupanya sekarang sudah dianggap kuno. Soalnya, manusia di era ini sudah pada pintar menghindari kecetekan teknologi kayak gitu. Benar juga, dengan pesatnya perkembangan komputerisasi dihampir seluruh sektor, tangan-tangan dan pikiran-pikiran jahil sudah bisa menyarukan apa saja. Orang baik aja bisa dibuat jadi telanjang dan disebar ke internet.
Tak ingin sasarannya hidup bermewah-mewah di atas tahta korupsi, petugas antikorupsi negerinya Jackie Chan itu menemukan trik jitu untuk mengungkap uang hasil korupsi. Sedikitnya, 80% pejabat korup di sana dipastikan memiliki istri simpanan. “Mereka lah yang memberi kami keterangan yang memang kami inginkan,” kata wakil direktur biro anti-korupsi Dongguan, Zhou Yuefeng.
Rupanya, di China, pejabat dan pengusaha sudah lumrah punya istri simpanan. Para wanita matre inilah yang dituding penyebab atau pendorong pejabat pemerintah jadi ke-enakan menyalah-gunakan jabatannya untuk mengkorup duit rakyat. Sungguh edan. Hanya gara-gara sawah sepetak, yang dilaburi nafsu sesaat, mereka harus nekat menyabung jabatan, yang orang lain sangat sulit menuju ke sana.
Saya jadi tergelitik mengangkat topik ini, karena diberitakan; bahwa titik berat sasaran antikorupsi China adalah Departemen Perpajakan dan Kesehatan. Tiba-tiba saja kemirisan saya selama ini mencuat, teringat petugas-petugas pajak di negara ini. Bagaimana sepak-terjang mereka mengkorup atau bermain mata dengan para pengusaha untuk mengemplang pajak.
Tidak mengherankan kalau orang akan berlomba-lomba menjadi pegawai petugas pajak. Bayangkan saja, dalam tempo berbilang tahun pendek, mereka sudah bisa beli rumah dan mobil. Padahal, kalo diukur dari gaji, berapa sih gaji pegawai negeri yang baru masuk? Saya suka iri melihat mereka-mereka itu, masih muda-muda tapi sudah terlihat mapan. Tapi, saya juga bersyukur tidak pernah berpikir jadi petugas pajak karena gak pengin jadi koruptor.
Ngomongin korupsi di negeri ini sudah semacam hidangan tersendiri dalam berita-berita mass media. Kayak cerita sinetron yang berkelanjutan namun terasa tak pernah tuntas. Bahkan boleh dibilang, makin merajalela disebabkan dari lini bawah hingga ke menteri seperti berlomba jadi tikus-tikus lumbung duit rakyat.
Coba lihat, gimana arogannya para jaksa yang jadi pesakitan di kursi persidangan. Sedikitpun tak terlihat rasa malu di wajahnya. Malah dengan gagah berani, ada yang sesumbar ngomong ke corong mig televisi sambil berkelit; “lihat saja nanti pembuktiannya,” – Manusia memang bisa anda kelabui dengan silat lidah, tapi Tuhan tidak akan diam melihat kejahatanmu.
Keanehan di negeri tercinta ini, bila ada aparat melakukan “dosa”, baik sebagai koruptor, perampok, pembunuh, atau patentengan dengan jabatannya; dipastikan akan dibela habis-habisan oleh atasannya. Mungkin takut korps yang dipimpinnya jadi tercemar – dan memang sudah tercemar. Dalih-dalih yang menjijikkan sering dikatakan: “kalo ada anak buah saya yang terbukti melakukan kesalahan, saya akan menindak tegas”. – Setelah pemberitaan itu surut, tindakan apa yang dilakukan pimpinan tersebut? Rakyat tidak pernah tahu. Tidak ada efek jera yang dilakukan pemerintah, seperti hukuman mati bagi aparatur pemerintahan yang melakukan kejahatan dan merugikan negara, atau pencemaran nama korps. Kalo cuma di sel dengan hukuman yang kadang diluar keadilan, saya pesimis negeri ini bisa menjadi negara yang bersih dari para koruptor.
Namun, bingung juga sih. Gimana mau memberantas koruptor kalau semuanya serba berkaitan. Selalu ada kepentingan, baik sebagai antek-antek, kelompok, maupun populeritas untuk konsumsi politik. Ya, capek ajalah semua itu diberitakan tiap hari. Sudah seharusnya para pimpinan tertinggi di negeri meniru China dan Korea Selatan dalam menangani kasus korupsi, bukan malah anget-anget tai ayam, tapi tetap bau! Bah?! ***
DIarsipkan di bawah: Artikel, Mereka, PrikitNews, SanaSini | Ditandai: Pencuri Adiknya Koruptor

*….Fuihh
berat kali topiknya bah.
Tapi aku heran liat gambar diatas, koq ada gbr si Indiana Jones disana…. ada hubungannya yah lae?
PrikitBilang:
Si Indiana Jones kan seorang petualang lae. Jadi, macam gitulah kira-kira petualangan para koruptor ditambah skandal-skandal ke-jetset-an mereka.
Dok napala sian blog iba boi berkoar-koar.
Tak beratlah itu, lae… Berapalah sekilo gadong dibandingkan emas?
Apa kabar tulang?
PrikitBilang:
Kabar baik bere. Semoga bere juga baik-baik.
Blog ini memang tidak selalu aku update, karena maunya aku tulisan di blog ini memang yang betul-betul membuat aku prihatin. Jadi, gak apa-apa ya kalo updatenya lama beiiinnnggg…!