<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Prihatinkita</title>
	<atom:link href="http://prihatinkita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://prihatinkita.wordpress.com</link>
	<description>Aku, Pikiran &#38; Rasaku</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Jul 2008 02:18:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='prihatinkita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Prihatinkita</title>
		<link>http://prihatinkita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://prihatinkita.wordpress.com/osd.xml" title="Prihatinkita" />
	<atom:link rel='hub' href='http://prihatinkita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Enjoy Dibara Korupsi</title>
		<link>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/27/enjoy-dibara-korupsi/</link>
		<comments>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/27/enjoy-dibara-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 08:52:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prikit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Mereka]]></category>
		<category><![CDATA[PrikitNews]]></category>
		<category><![CDATA[SanaSini]]></category>
		<category><![CDATA[Pencuri Adiknya Koruptor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prihatinkita.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Phobia mungkin bisa disebut sebagai ketakutan yang berlebihan. Aku phobia sama yang namanya tikus. Koruptor sering dianalogikan seperti tikus&#8230; Jadi, sangat perlu ber-phobia-ria untuk urusan yang satu ini, bila masih punya impian memiliki negeri yang sejahtera. PrikitNews; 27 Juni 2008. – MEMBACA berita di Kompas, 27 Juni 2008, tentang sepak terjang petugas antikorupsi di China, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=27&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-28" src="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-korupsi.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Phobia</span></em></strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"> <strong>mungkin bisa disebut sebagai ketakutan yang berlebihan. Aku phobia sama yang namanya tikus. Koruptor sering dianalogikan seperti tikus&#8230; Jadi, sangat perlu ber-phobia-ria untuk urusan yang satu ini, bila masih punya impian memiliki negeri yang sejahtera.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-27"></span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;color:#333333;" lang="IN">PrikitNews;</span><strong><span style="font-family:&quot;color:#333333;" lang="IN"> </span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;" lang="IN">27 Juni 2008</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">. – </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">MEMBACA berita di </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tunga;" lang="IN">Kompas</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">, 27 Juni 2008, tentang sepak terjang petugas antikorupsi di China, saya meras kagum sekaligus geli. Kagum karena pemerintahan negeri Tirai Bambu itu konsekwen menjalankan misi prioritas; <em>membabat habis para pejabat korup</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Kalau selama ini ‘intel’ penyidik koruptor di negara itu selalu menggunakan trik penyadapan, rupanya sekarang sudah dianggap kuno. Soalnya, manusia di era ini sudah pada pintar menghindari <em>kecetekan</em> teknologi kayak gitu. Benar juga, dengan pesatnya perkembangan komputerisasi dihampir seluruh sektor, tangan-tangan dan pikiran-pikiran jahil sudah bisa menyarukan apa saja. Orang baik aja bisa dibuat jadi telanjang dan disebar ke internet.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Tak ingin sasarannya hidup bermewah-mewah di atas tahta korupsi, petugas antikorupsi negerinya Jackie Chan itu menemukan trik jitu untuk mengungkap uang hasil korupsi. Sedikitnya, 80% pejabat korup di sana dipastikan memiliki istri simpanan. “Mereka lah yang memberi kami keterangan yang memang kami inginkan,&#8221; kata wakil direktur biro anti-korupsi Dongguan, Zhou Yuefeng.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-29" src="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/korupsi-4.jpg?w=245&#038;h=245" alt="" width="245" height="245" /><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Rupanya, di China, pejabat dan pengusaha sudah lumrah punya istri simpanan. Para wanita matre inilah yang dituding penyebab atau pendorong pejabat pemerintah jadi ke-enakan menyalah-gunakan jabatannya untuk mengkorup duit rakyat. Sungguh edan. Hanya gara-gara sawah sepetak, yang dilaburi nafsu sesaat, mereka harus nekat menyabung jabatan, yang orang lain sangat sulit menuju ke sana.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Saya jadi tergelitik mengangkat topik ini, karena diberitakan; bahwa titik berat sasaran antikorupsi China adalah Departemen Perpajakan dan Kesehatan. Tiba-tiba saja kemirisan saya selama ini mencuat, teringat petugas-petugas pajak di negara ini. Bagaimana sepak-terjang mereka mengkorup atau bermain mata dengan para pengusaha untuk mengemplang pajak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Tidak mengherankan kalau orang akan berlomba-lomba menjadi pegawai petugas pajak. Bayangkan saja, dalam tempo berbilang tahun pendek, mereka sudah bisa beli rumah dan mobil. Padahal, kalo diukur dari gaji, berapa sih gaji pegawai negeri yang baru masuk? Saya suka iri melihat mereka-mereka itu, masih muda-muda tapi sudah terlihat mapan. Tapi, saya juga bersyukur tidak pernah berpikir jadi petugas pajak karena gak pengin jadi koruptor.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Ngomongin korupsi di negeri ini sudah semacam hidangan tersendiri dalam berita-berita mass media. Kayak cerita sinetron yang berkelanjutan namun terasa tak pernah tuntas. Bahkan boleh dibilang, makin merajalela disebabkan dari lini bawah hingga ke menteri seperti berlomba jadi tikus-tikus lumbung duit rakyat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Coba lihat, gimana arogannya para jaksa yang jadi pesakitan di kursi persidangan. Sedikitpun tak terlihat rasa malu di wajahnya. Malah dengan gagah berani, ada yang sesumbar ngomong ke corong mig televisi sambil berkelit; “lihat saja nanti pembuktiannya,” – Manusia memang bisa anda kelabui dengan silat lidah, tapi Tuhan tidak akan diam melihat kejahatanmu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Keanehan di negeri tercinta ini, bila ada aparat melakukan “dosa”, baik sebagai koruptor, perampok, pembunuh, atau patentengan dengan jabatannya; dipastikan akan dibela habis-habisan oleh atasannya. Mungkin takut korps yang dipimpinnya jadi tercemar – dan memang sudah tercemar. Dalih-dalih yang menjijikkan sering dikatakan: “<em>kalo ada anak buah saya yang terbukti melakukan kesalahan, saya akan menindak tegas</em>”. – Setelah pemberitaan itu surut, tindakan apa yang dilakukan pimpinan tersebut? Rakyat tidak pernah tahu. Tidak ada efek jera yang dilakukan pemerintah, seperti hukuman mati bagi aparatur pemerintahan yang melakukan kejahatan dan merugikan negara, atau pencemaran nama korps. Kalo cuma di sel dengan hukuman yang kadang diluar keadilan, saya pesimis negeri ini bisa menjadi negara yang bersih dari para koruptor.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Namun, bingung juga sih. Gimana mau memberantas koruptor kalau semuanya serba berkaitan. Selalu ada kepentingan, baik sebagai antek-antek, kelompok, maupun populeritas untuk konsumsi politik. Ya, capek ajalah semua itu diberitakan tiap hari.<span> </span>Sudah seharusnya para pimpinan tertinggi di negeri meniru China dan Korea Selatan dalam menangani kasus korupsi, bukan malah anget-anget tai ayam, tapi tetap bau! Bah?! *** <span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/prihatinkita.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/prihatinkita.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prihatinkita.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prihatinkita.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prihatinkita.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prihatinkita.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prihatinkita.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prihatinkita.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prihatinkita.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prihatinkita.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prihatinkita.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prihatinkita.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prihatinkita.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prihatinkita.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prihatinkita.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prihatinkita.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=27&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/27/enjoy-dibara-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cb269c527657d6040b8fe9eaccd38e5?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prikit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-korupsi.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/korupsi-4.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bermimpi Di Atas Mimpi</title>
		<link>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/25/bermimpi-di-atas-mimpi/</link>
		<comments>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/25/bermimpi-di-atas-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 08:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prikit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Mereka]]></category>
		<category><![CDATA[PrikitNews]]></category>
		<category><![CDATA[Bernalar Dengan Mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prihatinkita.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Mentalitas dari suatu bangsa akan terbangun dengan baik bila aparatur pemerintahan memilik mental yang baik pula. Menjadi contoh yang akan ditiru, dan bisa melahirkan chaos, bila pemimpin itu senangnya bermimpi di atas mimpi. PrikitNews; 25 Juni 2008. – ADA MIMPI yang indah, ada pula mimpi yang nyeramin. Ada yang bilang, mimpi hanyalah bunga-bunga tidur, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=24&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-bermimpi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-25" src="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-bermimpi.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Mentalitas dari suatu bangsa akan terbangun dengan baik bila aparatur pemerintahan memilik mental yang baik pula. Menjadi contoh yang akan ditiru, dan bisa melahirkan <em>chaos</em>, bila pemimpin itu senangnya bermimpi di atas mimpi.</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"></span></strong><span id="more-24"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;color:#333333;" lang="IN">PrikitNews;</span><strong><span style="font-family:&quot;color:#333333;" lang="IN"> </span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#333333;" lang="IN">25 Juni 2008</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">. – </span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">ADA MIMPI yang indah, ada pula mimpi yang nyeramin. Ada yang bilang, mimpi hanyalah bunga-bunga tidur, namun ada juga yang percaya, mimpi sebagai wangsit yang harus diwaspadai. Soal kebenarannya, silahkan berpikir lebih bijak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Negeriku tercinta ini paling suka dengan gejolak-gejolak yang bikin heboh seantero. Sepertinya, tanpa sensi gejolak, negeri ini bukanlah bernama Republik Indonesia. Dari gejolak politik, tipu menipu, sampai kepercayaan pada ramalan. Saya pikir, kebanyakan rakyat negeri ini sudah pada sakit jiwa. Selalu cepat mempercayai sesuatu hal tanpa memikirkan logikanya. Sialnya, orang-orang terpandang pun ikut-ikutan sakit jiwa. Dari pejabat negera hingga mereka yang seharusnya si pemilik logika sebagai pengajar, turut serta tertipu oleh orang “gila” yang kadang tidak memiliki pendidikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Apa yang salah dengan negeri ini?</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Sekitar tahun 70-an, negeri ini dihebohkan oleh berita janin dalam kandungan bisa membaca Al Quran. Dari kaum awam, Ulama kelas satu, hingga Wakil Presiden [Adam Malik] sangat sukses ditipu oleh Cut Sahara Fona, ibu si janin, yang gak lulus SD itu. Adam Malik diberitakan sampai rela menempelkan kupingnya ke perut buncit Cut Sahara untuk mendengar suara si janin. Belakangan diketahui, Cut Sahara ternyata menempelkan tape recorder kecil [kebanyakan dimiliki wartawan] di atas perutnya. <em>Jadi ingat nih lagu Nugie: Tertipu&#8230;!</em> <span> </span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Sepanjang tahun 90-an hingga sekarang, begitu banyak daftar penipuan berkedok investasi. Heboh dengan MLM [Multy Level Marketing] yang sukses menipu puluhan miliar duit nasabahnya. Lalu gebyar lagi penanaman modal di sektor agro bisnis dan bidang usaha lainnya. Di sini juga ratusan miliar duit nasabah sukses ditilep si penjual mimpi. Kasihannya, seorang teman artis cantik yang ngetop tahun 80-an ikut pula tertipu hampir </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;" lang="IN">1</span><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">M. <em>Yang bodoh siapa, hayo..?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/mimpi-kaya-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-26" src="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/mimpi-kaya-2.jpg?w=229&#038;h=229" alt="" width="229" height="229" /></a><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Redupnya [bukan mati, ya] kehebohan investasi bodong ini, masyarakat lantas dikagetkan lagi dengan penipuan via SMS dengan iming-iming mendapat hadiah <em>gede</em>. Yang berhasil ditipu mereka ini bukan hanya masyarakat menengah ke bawah. Tapi, orang berpangkat dan intelektual pun sukses banget ditilep uangnya dengan cara bermain di ATM. <em>Tolol sekali!</em> Kenapa orang-orang ini gak memakai nalar logika; merasa pernah gak sih mengikuti undian seperti disebut para penipu ini? Kalaupun merasa mengikuti undian itu, logika gak pemberitahuan hadiah melalui SMS? Atau, bertransaksi melalui ATM? <em>Aya-aya wae&#8230;</em>!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Masih kurang sensasi di kalangan masyarakat, di era Megawati jadi Presiden muncul lagi kehebohan soal harta karun di Situs Batutulis, Bogor. Sedihnya, penggalian ini malah dipimpin oleh Said Agil Al-Munawar, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Agama. Apa yang didapat dari penggalian ini selain kecaman dan caci maki dari masyarakat, khususnya orang Sunda yang merasa Situs yang begitu dihormati diobok-obok orang-orang bodoh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Mungkin sensasi anak negeri masih kurang hebohnya, muncul lagi mimpi yang baru. Dua berita yang menghebohkan seperti serial sinetron [maksudnya bersambung] menjadi santapan pembicaraan hampir seluruh lapisan. Dari desa Ngadiboyo, Nganjuk, Jatim; seorang yang bernama Djoko Suprapto memproklamirkan diri sebagai pahlawan penemu <em>blue energy</em> sebagai alternatif pengganti BBM yang kian hari harganya terus melambung. Hebatnya, sampai Presiden SBY pun merasa tertipu oleh ulah Djoko yang dengan hasil temuannya itu. Apa hasilnya? Hingga kini belum bisa dibuktikan. Yang saya lihat di televisi dalam presentasinya, Djoko hanya mencampur air dengan bensin atau solar. Busyeet dah&#8230; Pada kemane nih ilmuan kita, kok pade kagak bersuara gitu?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Belum usai kehebohan <em>blue energy made in</em> Djoko, dari negeri Pasundan, Tasikmalaya, muncul sosok pahlawan <em>bak</em> Robin Hood kesiangan. Tiba-tiba saja nama Ahmad Zaini Suparta menjadi pemberitaan hangat di mass media. Lelaki bergigi sedikit togos ini mengakui punya dana sebesar 18.000 triliun rupiah sebagai warisan orangtuanya dari hasil menjual rempah-rempah ke luar negeri. Ahmad Zaini mungkin terinspirasi dari legenda Robin Hood atau Zoro, dengan gagah berani dan sesumbar, ia memasang iklan di surat kabar Bandung yang menyatakan mau meminjamkan dana kepada siapa pun yang memiliki nilai proyek di atas 50 miliar rupiah. Tentu saja dengan iming-iming pinjaman lunak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Bagai laron di musim hujan, berbondong-bondonglah orang percaya dan datang menghadiri pertemuan di Vila Bunga, Parongpong, Bandung. Mungkin karena nilai sebutannya puluhan hingga ratusan miliar, maka yang datang tentu saja kalangan menengah ke atas. Dari yang merasa dirinya konglomerat hingga para intelektual bergelar Rektor Perguruan Tinggi, rame-rame mengajukan proposal pinjaman. Konyolnya, pertemuan itu dihadiri oleh manusia-manusia serakah dari seluruh pelosok negeri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Usai pertemuan, apa yang terjadi? Ya, sukseslah Ahmad Zaini meninggalkan utang pembayaran sewa hotel tempat penyelenggaraan <em>public expose</em>, ditambah hutang katering dan hiburan senilai ratusan juta rupiah. Merasa dikadali, sejumlah pengusaha juga tengah mencari-cari keberadaan Ahmad Zaini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Saya salut kepada sosok Ahmad Zaini yang telah berhasil mengelabui orang-orang besar di beberapa bidang. Terbilang nekad, tapi Zaini sukses besar membuat pengukuran akan kadar logika intelektual para orang-orang besar itu, yang memang nalarnya jeblok semua. Zaini tidak salah secara sensasional. Yang goblok adalah orang yang mempercayai omongannya. Punya otak yang pintar, tapi masih memelihara ketololan. Berarti orang-orang ini perlu terapi kejiwaan kan? Kalo gak sakit jiwa, berarti manusia yang suka ber-tuhan-kan keserakahan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Sepastinya pun Zaini mengakui uang yang didapatnya itu warisan dari hasil usaha orangtuanya menjual rempah-rempah ke luar negeri, tetap saja harus diselidiki kebenarannya. Masya pemerintah tidak punya catatan arsip pengeksporan rempah-rempah sampai puluhan ribu triliun gitu? Barang seludupan dong itu namanya kalo gak punya nota ekspor.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Seandainya pun Zaini mengatakan uang tersebut dalam bentuk tabungan atau surat berharga, seharusnya dong diteliti kebenarannya? Bukan main percaya gitu aja! Gimane sih?! Katanya orang berpendidikan dan pengusaha besar. Kok tolol masih aja dipelihara? Ya, benar saja orang-orang ini sakit jiwa, kalau gak mau disebut manusia paling serakah. Mau gampangnya saja. Apakah sudah sebegitu bobroknya mentalitas bangsa ini, begitu gampang tersihir oleh umbar-umbar semata?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Melihat fenomena-fenomena seperti ini, saya melihat bahwa bangsa ini belum lagi terbebas dari mental bangsa jajahan. Begitu mudahnya terprovokasi oleh hal-hal yang belum jelas. Mungkin juga ini satu ciri khas mental bangsa yang pernah dijajah kolonial Belanda. Beda dengan pola pikir bangsa bekas jajahan Inggris. Boleh dibilang, negara bekas jajahan bangsa Belanda hampir tidak ada yang maju. Barangkali itu efek dari pembodohan yang diterapkan penjajah agar selalu bisa mengadu domba. Dan, suka tidak suka ini menjadi pola yang diterapkan para politikus dan pengusaha untuk terus mengobok-obok kebodohan rakyat ini demi kepentingan pribadi dan kelompok.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Demo sana demo sini. Anarkis di sana, anarkis di sini. Tipu sono, tepu sene&#8230;! Mau jadi bangsa apa sih rakyat negeriku ini? Mengapa begitu gampangnya teriming-iming – diajak bermimpi di atas mimpi – dan ketika terbangun dari mimpi hanya melihat kenyataan pahit dalam hidupnya? – Konyolnya, sebagaian kalangan yang bangga disebut “pengamat” justru berbangga diri menyebut semua kejadian dunia tipu-menipu ini adalah efek dari rakyat yang desperate – putus asa oleh ketidak-jelasan masa depan hidupnya oleh perekonomian yang masih terus terpuruk. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">“Bah, cemmana kau bisa pandai bicara gitu kalau kau cumman pintar ngomong untuk konsumsi populeritas kau saja?! Ketika demo-demo menentang segala kebijakan pemerintah, muncung kau bicara lebih panjang dari hidung pinokio. Giliran kau sudah didudukkan di salah satu departemen, muncung kau lebih cekung dari muncung Omas, <em>mingkem</em>! Heh&#8230;!” </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN">Di kalangan pemerintahan <em>sami mawon</em>. Orang-orang yang diharapkan bisa menjaga kesakralan hukum malah terlibat konspirasi jual-beli hukum. Tak suka si Polan berkoar membela kebenaran, bunuh saja di atas pesawat. Aparat yang dipastikan bisa menjaga keutuhan berbangsa, malah tak pandang kasih meluncurkan peluru dari moncong senjatanya. Malah ada senjata yang dibeli dari duit rakyat itu dipergunakan untuk merampok. Kalo rakyat ribut menuding ketidak becusan korpsnya, berdalilah bahwa si Gosa berpangkat mental bobrok itu sudah lama disersi. Banyak, dan bahkah lebih dari 18.000 triliun alasan yang dipunya para punggawa pemerintahan untuk membela diri. Ujug-ujugnya, rakyat ini terbuai lagi bermimpi di atas mimpi. Ahk&#8230;??! *** <span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"><br />
<span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/prihatinkita.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/prihatinkita.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prihatinkita.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prihatinkita.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prihatinkita.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prihatinkita.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prihatinkita.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prihatinkita.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prihatinkita.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prihatinkita.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prihatinkita.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prihatinkita.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prihatinkita.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prihatinkita.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prihatinkita.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prihatinkita.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=24&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/25/bermimpi-di-atas-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cb269c527657d6040b8fe9eaccd38e5?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prikit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-bermimpi.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/mimpi-kaya-2.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Preman &amp; Hantu</title>
		<link>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/21/preman-hantu/</link>
		<comments>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/21/preman-hantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 07:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prikit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dari Jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[PrikitNews]]></category>
		<category><![CDATA[SanaSini]]></category>
		<category><![CDATA[Preman Itu Pengecut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prihatinkita.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Preman ada yang beking? Katanya sih; kalo gak karena mabuk miras, keberanian mereka berkobar karena dibekingin. PrikitNews; 21 Juni 2008. – Sini preman, sana preman / sedang beraksi / Wajah dingin dan seram / siap menerkam / Jangan kau coba, kawan / cari perkara / Sejurus berarti petaka / aaaaa&#8230;.oww! // Di zaman resesi dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=19&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><img class="alignleft size-full wp-image-20" src="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-preman.jpg?w=468" alt=""   /><span style="font-size:16pt;" lang="IN"> </span></p>
<p><span style="font-size:16pt;" lang="IN"> Preman ada yang beking? Katanya sih; kalo gak karena mabuk miras, keberanian mereka berkobar karena dibekingin.</span></p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">PrikitNews;</span><strong><span lang="IN"> </span></strong><em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">21 Juni 2008</span></em><span lang="IN">. – </span><em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sini preman, sana preman / sedang beraksi / Wajah dingin dan seram / siap menerkam / Jangan kau coba, kawan / cari perkara / Sejurus berarti petaka / aaaaa&#8230;.oww! // Di zaman resesi dunia / pekerjaan sangat sukar / juga pendidikan / Di sudut-sudut jalanan / banyak pengangguran / Jadi preman &#8216;tuk cari makan </span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Cuplikan lagu di atas sempat ngetop di era 80-an sebagai salah satu hits rocker Ikang Fauzi. Syair lagu itu sangat tepat menggambarkan kesejatian ulah oknum yang bangga disebut <em>preman</em>. Mereka ini akan selalu terlihat bergerombol di ujung-ujung gang, sudut-sudut pasar, sekitar lahan perparkiran, bahkan di dunia kehidupan malam. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kehadiran para preman yang selalu petantang-petenteng ini tentu saja sangat dibenci masyarakat. Ulah mereka yang selalu menekan mangsanya kerap menimbulkan anarkis dan penganiayaan. Mereka seakan tidak takut hukum. Mereka seakan memiliki dua nyawa. Sangat tidak sukai para pedagang di pasar, pemilik pertokoan dan beberapa perusahaan yang selalu dipalaknya. Hebatnya lagi, mereka ini ada yang mengkoordinasi diri dengan wadah ke-ormas-an. Seakan bernaung menjadi <em>underbow</em> dari salah satu partai.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Bagi saya, seorang preman tidaklah menjadi kebanggaan. Justru kasihan! Orang seperti ini adalah orang yang kehilangan arah hidup. Gak punya kerjaan, lantas kongkow-kongkow dengan teman lainnya, dan akhirnya merencanakan tindak kejahatan. Toh, mereka pengin juga eksis dalam hidup ini. Hanya saja jalannya tidak normal.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Yang bikin saya prihatin, ada orang yang begitu bangganya disebut preman. Jagoan! Bisa palak sana palak sini. Para preman ini tidak tahu malu, bahwa mereka tidak lebih dari sosok pengemis yang cuma mengandalkan kegarangan. Mereka tidak menyadari kalau suatu waktu akan kena batunya. Mungkin pikiran mereka; ke-premanannya itu bisa dilakoni sampai tua.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Apa hubungan preman dan hantu? Ya, sama-sama jelangkung. Muncul dan pergi tidak diketahui. Kalo lagi gak punya duit, macam-macamlah ulahnya memeras. Setelah punya duit, maboklah mereka dengan miras sambil berkoar-koar gak jelas gitu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Sekitar awal 90-an, saya terpaksa pulang ke Medan atas perintah orang tua. Medan memang sudah terkenal dengan kegarangan manusianya. Awalnya, saya pikir Medan telah berubah setelah puluhan tahun saya tidak bersapa. Namun, betapa kagetnya saya melihat bahwa premanisme di Medan justru kian marak. Pake bawa-bawa nama ormas segala. Mereka sangat brutal berperang untuk mempertahankan wilayah “kejahatan”nya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Persis di sebelah rumah kami ada pasar tradisional kecil. Tidak terlalu ramai karena pembeli yang diharapkan cuma penghuni perumahan Simalingkar. Tapi, untuk keperluan dapur pasar ini memang sangat membantu. Sayangnya tidak dikelola dengan baik sehingga bertahan hanya 2 tahunan. Terbengkalailah los-los/kios-kios pasar itu jadi tempat bersarang hantu dan preman. Hampir saban malam kami mendengar teriakan-teriakan orang mabuk dari sebelah rumah. Sangat menjengkelkan. Kami tahu, mereka itu adalah orang yang begitu bangga disebut preman.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Saya sangat kesal melihat segala tingkah mereka. Beraninya kalau sedang ngumpul. Kalau sudah jalan sendiri-sendiri tak beranilah dia tegakkan kepala. Hancurnya lagi, mereka itu hanya berani di sekitar pasar dan Simalingkar. Kalau sudah ke arah Padang Bulan atau pasar Pringgan, dapat dipastikan tubuh mereka akan meringkuk berjalan kayak anjing yang sedang lewat di wilayah anjing lainnya. Anjing kan kalau berada di tempat bukan daerahnya, ekornya pasti melemas ke bawah dengan tubuh setengah maringkuk dan berjalan menepi-nepi. Syukur aja di era reformasi yang kebablasan ini daerah Simalingkar sudah lumayan aman. Bila pulang ke sana, para preman yang saya kenali dulu sudah tidak nampak batang hidungnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-21" src="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/preman-1.jpg?w=468" alt=""   /> <span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kasta di dunia premanis jelas ada. Preman sekelas ikan teri, jagonya  hanya sekitar wilayah kampungnya. Yang bekingi kelas teri ini biasanya orang yang dianggap jagoan dan pernah masuk penjara untuk beberapa saat. Berani menikamkan pisaunya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Preman sekelas ikan tongkol, mulai merambah penguasaan pasar dan lahan perparkiran. Selentingan umum, kelas ikan tongkol ini dibekingi oleh aparat yang menerima setoran. Tingkah preman ini sedikit lebih santun, bermuka dua kepada orang di sekitarnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Preman sekelas kakap, biasanya bermain di ranah perjudian. Menguasai setoran dari bisnis hiburan malam. Juga selentingan umum yang beredar, mereka yang kerap disebut bos [mafia] ini sampai bisa mengatur kedudukan aparat yang akan bertugas di daerah itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Preman sekelas ikan paus; ada gak, ya? Yah, boleh jadi yang bermain dengan para koruptor. Biasanya mereka ini duduk sebagai pejabat, atau anggota parlemen. Cara mainnya pun tidak terkesan norak dan kumuh seperti kelas teri dan tongkol. Mereka rapi memakai jas dan dasi. Manusia ini jauh lebih munafik lagi karena menyalah-gunakan kepercayaan rakyat yang dibebankan kepadanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dengan semua tingkah mereka yang bangga sebagai preman ini, sudah dipastikan sangat dibenci masyarakat. Mau marah? Gimana mau melawan, mereka berani cuma main keroyok. Sangat pengecut. Mau diadukan ke polisi, <em>tarsok-tarsok</em> [sebentar atau besok] sudah dilepas lagi. Ya, jelas aja mereka tidak menggubris hukum.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kalau ditanya; ingin bertemu hantu atau preman? Saya pasti memilih hantu! Kekonyolan para preman ini sudah sangat menyebalkan. Kita membangun rumah dipalak. Eh, jangankan membangun rumah. Bangun pagar rumah aja dimintai upeti. Itu ciri khas preman Medan kelas teri dan tongkol. Coba, apa hubungannya mereka meminta upeti? Yang bikin per-undang-udang-an di negera ini emangnya preman? Tapi, inilah cerminan bagaimana buruknya penerapan hukum di negeri ini. Sepertinya, siapa saja pun bisa berlaku se-enak jidatnya. Gimana saya gak prihatin melihatnya? *** <span> </span></span></p>
<p><!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/prihatinkita.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/prihatinkita.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prihatinkita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prihatinkita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prihatinkita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prihatinkita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prihatinkita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prihatinkita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prihatinkita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prihatinkita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prihatinkita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prihatinkita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prihatinkita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prihatinkita.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prihatinkita.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prihatinkita.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=19&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/21/preman-hantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cb269c527657d6040b8fe9eaccd38e5?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prikit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-preman.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/preman-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Geng Geng&#8230; Gong Gong</title>
		<link>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/20/geng-geng-gong-gong/</link>
		<comments>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/20/geng-geng-gong-gong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 06:43:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prikit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[PrikitNews]]></category>
		<category><![CDATA[SanaSini]]></category>
		<category><![CDATA[Menjadi Terdepan]]></category>
		<category><![CDATA[Ya Positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prihatinkita.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia, tanah air beta.. pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala.. slalu dipuja-puja bangsa.. PrikitNews; 20 Juni 2008. – MEMPRIHATINKAN! Itulah ungkapan yang tepat untuk menunjuk makin maraknya muncul geng-gengan di kalangan anak remaja negeri ini. Masih belum pudar dari ingatan, gimana anak remaja kota Bandung dalam mengaktualisasikan diri mereka dengan melahirkan wadah geng [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=12&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-geng-geng1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14" src="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-geng-geng1.jpg?w=219&#038;h=203" alt="" width="219" height="203" /></a><strong></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">Indonesia, <strong><span>tanah air</span></strong> beta.. pusaka abadi nan jaya<br />
Indonesia sejak dulu kala.. slalu dipuja-puja bangsa..</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-12"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">PrikitNews;</span><strong><span lang="IN"> </span></strong><em><span style="font-size:10pt;" lang="IN">20 Juni 2008</span></em><span lang="IN">. – </span><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">MEMPRIHATINKAN!</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> Itulah ungkapan yang tepat untuk menunjuk makin maraknya muncul geng-gengan di kalangan anak remaja negeri ini. Masih belum pudar dari ingatan, gimana anak remaja kota Bandung dalam mengaktualisasikan diri mereka dengan melahirkan wadah geng motor. Tujuannya tidak jauh dari gagah-gagahan semata. Merasa kelompoknya harus disegani, bahkan ditakuti. Seakan dunia ini hanya milik mereka. <em>Bah?!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Hebatnya lagi, dalam merekrut keanggotaan, mereka harus mengadakan pemploncoan mengalahkan latihan ala militer. Setiap anggota yang mau masuk harus menjalani semacam test fisik dengan ditonjokin, ditendang, bahkan [mungkin kalo bisa] diseret dulu pake motor di atas jalanan berbatu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tidak ada rasa takut bagi geng ini. Sudah terbukti mereka sampai bisa menewaskan orang yang mereka anggap menyinggung perasaan mereka. Sepertinya, tidak ada arti hukum bagi mereka. Geng motor ini tidak sembunyi-sembunyi, tapi sepertinya para aparat di masyarakat cuma sebelah mata menyikapi tindak-tanduk mereka. [mungkin para aparat berpikir; <em>toh bukan aku yang diganggu</em>. Lha, para aparat itu digaji kan untuk menjaga penegakan hukum. <em>Gimana sih? </em>]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Belum reda kehebohan geng motor Bandung, tiba-tiba kita dikejutkan lagi dengan geng Nero yang melejitkan diri dari <em>ranah</em> Jawah Tengah, pelosok desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Pati. <em>Alaamaak nian..!</em> Geng Nero ini justru lahir dari kaumnya Ibu Kartini. Perasaan, perjuangan Ibu Kartini untuk emansipasi hak wanita bukan <em>deh</em> untuk geng-gengan premanisme.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Uniknya, nama NERO adalah singkatan “<strong>ne</strong>ko-neko dike<strong>ro</strong>yok”. Atau, kata lainnya; jika macem-macem pasti digebukin rame-rame. Tadinya saya pikir kata Nero itu diambil dari nama kaisar Romawi, Nero. Yah, gak beda jauh sih karakternya. Sama-sama sadis! Siapa yang gak tahu kekejaman kaisar Nero di zaman pemerintahannya? – Kualatnya, si kaisar Nero benaran ini justru matinya gak wajar. Di usia 31, dia malah mati bunuh diri. <em>Heehh&#8230;?!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dalam gambar yang ditayangkan televisi dari hasil rekaman kecanggihan telepon selular itu, terlihat bagaimana seorang remaja putri jadi “sansak” punggawa geng Nero. Ditampar, ditonjok, bahkan diludahi. Tidak ada rasa kasihan melihat si remaja putri hanya diam saja <em>dinero</em>. Justru setiap dinero, si remaja putri tetap menghormat ala militer. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>J</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tindakan main hakim sendiri ini sepertinya sudah menjadi fenomena umum di masyarakat. Kita masih ingat kejadian STPDN, sekolah calon pemimpin negeri ini. Heboh dengan kebrutalan siswanya hingga membuat orang gerah menuntut agar sekolah ini dibubarkan saja. Kok calon pemimpin-pemimpin negara ahlaknya cuma sebatas gampar-menggampar dan siksa-menyiksa? <em>Ada apa sih dengan negeri ini?</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Saya coba olah pikir. Sudahkah rakyat negeri ini sakit jiwa semua? Di ranah Pilkada-pilkada-an pun selalu muncul berita serang dan menyerang. Tidak mau menerima kekalahan. Kalau semua ingin menang, lantas siapa juga yang jadi pemimpin? <em>Toh</em>, semua mau menang. Ormas yang satu tidak ingin lebih disegani dari ormas lainnya. <em>Bah, cemmana negeri ini bisa damai kalau ego kelompok lebih dikedepankan?</em> Kenapa harus merasa diri paling benar, paling ditakuti, paling disanjung, dan paling-paling juga ke neraka ujung-ujungnya. Kalau saya ditanya kepentingan adanya ormas, pasti saya jawab: gak penting! Di AD &amp; ART setiap ormas pasti selalu menyatakan kalau kehadiran ormas itu untuk kepentingan masyarakat banyak. Untuk ini dan untuk itu. Macamlah itu kata-kata muluk tercantum di sana, yang nyatanya dalam implementasinya ke masyarakat justru nyakiti.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Masyarakat yang sudah “males” melihat tindak-tanduk negatif dari ormas-ormas yang sudah ada, khususnya ormas pemuda, yang sepertinya hanya pewadahan para preman – pasti mendukung dihapusnya semua kegiatan ormas. Namun, dipasti juga ada segelintir orang yang dengan lantang menentang pembubaran ormas. “kebebasan bersyarikat kan disahkan dalam undang-undang,” sudah pasti mereka beralasan seperti itu. Brutalnya, ketika ormas itu sudah bertindak anarkis, si lantang pembela ormas itu justru gak berani menyalahkan ormas yang dibela telah berbuat kejahatan. Bahkan sering saya lihat di televisi, orang-orang bodoh itu makin gencar membela dengan segala macam argumentasi yang sangat dangkal. Mungkin malu disorot kamera karena telak disudutkan oleh <em>host</em> yang mewawancarainya. Dan, gak tahu dirinya lagi; mereka ini suka sesumbar bicara lantang dengan bertamengkan kesarjanaannya. Saya sangat geli melihat orang yang menggong-gong: “Saya si Anu&#8230;! Sarjana Hukum&#8230;! Silahkan bla&#8230;bla&#8230;bla&#8230;” – Emangnya kalo udah sarjana hukum sudah menjadi tuhan pada kehidupan ini? Kok enggak sadar dia telah mempermalukan korps keilmuan Hukum.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Rakyat negeri ini sedang sakit? Boleh jadi. Sakit jiwa, sakit hati, sakit serakah, sakit paling benar, sakit menindasan hukum, dst. Memang gejolak ini telah terjadi. Saya bilang, ini semua efek dari tayangan televisi yang belum-belum juga bisa mendidik rakyat ini. Televisi seperti tidak peduli efek dari tayangannya yang selalu membodohi karena mengejar si ratu rating. Jangankan pada ranah hiburan. Dalam tayangan <em>news</em> pun sudah tidak punya kode etik. Selalu menayangkan berita tentang kekerasan. Perseteruan desa A dan desa B – lengkap dengan gambar main lempar dan bawa-bawa tombak, pedang, dan clurit segala. Lalu ada berita, mahasiswa merusak kampus sendiri. Polisi perang lempar dengan para demonstran. Kubu-kubu Pilkada saling menikam, dst. Ngapain lagi gambar-gambar gini harus ditayangkan, yang sudah pasti akan ditonton anak-anak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di manakah sengatmu para pemimpin negeri melihat kejadian-kejadian ini? Kalau tidak mumpuni jadi pemimpin, jangan dong duduk di singgasana hanya untuk malu-maluin. Sudah selayaknya kalau sudah menduduki jabatan eksekutif, jangan lagi ditunggangi kepentinga kelompok. Lebihlah melihat kepentingan dan kesejahteraan rakyat yang kian terpuruk ini. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tampaknya, manusia-manusia yang selalu memanfaatkan kebodohan rakyat ini sangat tidak takut kalau mati nanti, dia akan ditempatkan di mana? Mereka hanya ingin memuaskan nafsu keserakahan duniawi, yang nyatanya dalam sekedip mata bisa diambil Sang Penguasa Sejati.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Negeri ini masih carut-marut tatanannya sehingga melahirkan geng-geng yang mengong-gong dari lapisan terendah hingga yang tertinggi. <span> </span></span><em><span lang="IN">Indonesia, <strong><span>tanah air</span></strong> beta.. pusaka abadi nan jaya<br />
Indonesia sejak dulu kala.. slalu dipuja-puja bangsa&#8230;</span></em><span lang="IN"> ***</span></p>
<p><span lang="IN">Indonesia negeriku</span></p>
<p><span lang="IN">Di manakah sengatmu</span></p>
<p><span lang="IN">Di manakah nyiurmu melambai</span></p>
<p><span lang="IN">Di manakah kebanggaanku?</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/prihatinkita.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/prihatinkita.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/prihatinkita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/prihatinkita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/prihatinkita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/prihatinkita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/prihatinkita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/prihatinkita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/prihatinkita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/prihatinkita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/prihatinkita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/prihatinkita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/prihatinkita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/prihatinkita.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/prihatinkita.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/prihatinkita.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=prihatinkita.wordpress.com&amp;blog=3523133&amp;post=12&amp;subd=prihatinkita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prihatinkita.wordpress.com/2008/06/20/geng-geng-gong-gong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7cb269c527657d6040b8fe9eaccd38e5?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">prikit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://prihatinkita.files.wordpress.com/2008/06/artikel-geng-geng1.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
